
Abel K Widodo
@abelkrw
“And I will be to her a wall of fire all around, declares the Lord, and I will be the glory in her midst.”
The Unseen Shield
Pernah merasa disudutkan, diperlakukan ga adil, atau dikhianati sampai emosi rasanya mau langsung serang balik? Kata Ibrani Khômah (tembok) dan 'Êsh (api) menggambarkan benteng spiritual yang tak tertembus dimana sebuah perlindungan yang ga cuma menjaga dari luar, tapi juga memancarkan glory dari dalam. He doesn't just watch over you; He becomes your ultimate security.
Kebenaran ini saya alamin beberapa hari yang lalu. Tepat 45 menit sebelum flight ke Bali, kereta bandara yang saya tumpangi mendadak berhenti untuk menunggu pemulihan jalur. Suasana langsung chaos. Banyak penumpang, termasuk WNA, sudah mulai emosi dan marah-marah ke masinis yang ga bisa memberikan kepastian. Banyak yang memilih keluar kereta untuk mengejar transport online. Pas saya cek maps, waktu tempuh ke bandara via jalan darat macet parah (sekitar 60-90 menit untuk tiba di terminal tujuan saya). Secara logika, jika saya meledak dalam kekesalan atau ikut panik keluar kereta pun sudah pasti bikin saya missed flight.
Di titik itu, ego dan kepanikan orang sekitar, ini sempat memancing saya untuk ikut frustrasi. Tapi saya tidak meluapkan emosi, saya memilih duduk diam dan berdoa: "TUHAN, kupercayakan kepada-Mu saja. Aku ga mungkin melepaskan perjalanan ini karena banyak janji yang harus kuselesaikan di sana".
Ajaibnya, saat semua orang melangkah keluar stasiun, security pintu tap keluar tiba-tiba mengumumkan bahwa kereta sudah bisa jalan kembali. Masalah yang biasanya memakan waktu 2 jam untuk pemulihan kereta, selesai hanya dalam 20 menit. Aneh ga sih? Apalagi, kereta kalayang ke terminal 1 datang disaat yang tepat, once kereta bandara datang saya langsung bisa menggunakan kereta kalayang dan berlari ke pintu check-in. Ternyata, tidak berhenti di situ, ujian kesabaran kembali datang saat pesawat dinyatakan delay operasional yang estimasinya lebih dari 4 jam lagi (dalam hati, duh udah lari-lari dari kereta kalayang, masi. Tapi lagi-lagi, baru 45 menit menunggu, announcement penerbangan sudah dipanggil.
Momen ini membuat saya tersadar, apakah ini proses pembentukan kesabaran atau bentuk perlindungan nyata dari TUHAN? Daripada meluapkan kejengkelan pada dua moda transportasi tersebut, saya memilih percaya bahwa everything works together for my good. Perlindungan Tuhan itu nyata, dan Ia bukan cuma menjaga kita dari bahaya luar, tapi juga menjaga ketenangan hati kita di tengah situasi yang bikin emosi.
Key Takeaway
Pembalasan, pemulihan, dan kendali atas situasi adalah hak prerogatif-Nya. Bukan tugas kita untuk main hakim sendiri atau meluapkan emosi secara reaktif.
Terbawa ego dan rasa kesal hanya membuang-buang energi serta merusak kedamaian interior yang sudah Tuhan berikan.
Action Steps & Radical Shift
Kalau hari ini ada situasi yang unfair atau memicu emosi, take a deep breath. Alihkan energi dari meluapkan kejengkelan menjadi surrendering the issue, lalu tetap fokus melakukan bagianmu dengan excellence.
Hentikan kebiasaan menjadi revenge-driven. Stop building your own fragile walls of defense, dan biarkan perlindungan-Nya yang bekerja memproses segalanya.
Let Him be your wall of fire, while you stay focused on radiating His grace


