
Abel K Widodo
@abelkrw
“Then the cover of lead was raised, and there in the basket sat a woman!”
Exposing the Hidden
Pernah ga kamu merasa seperti sedang memainkan dua peran yang berbeda antara di depan publik dan saat lagi sendiri? Di luar, looks promising, kita tampil sebagai sosok yang begitu teratur, profesional, dan cerdas. Tapi pas lagi alone di kamar dengan ponsel di tangan, pas lagi scrolling di tengah malam, ada kebiasaan buruk, secret addiction, atau toxic behavior yang diam-diam tetap kita pelihara dan tutupi rapat-rapat. Kita begitu mahir menjaga public image di era digital yang serba mengagungkan pencitraan, padahal di balik layar, ada kebohongan besar yang sedang kita jalani.
Minggu ini, aku mendapat kesempatan untuk ikut hadir dalam meeting bersama BOD. Tujuan awalnya sederhana, kami ingin mengerti lebih dalam mengenai arahan dari project yang sedang dikerjakan. Namun di tengah diskusi, pembicaraan sempat bergeser membahas sebuah realita yang sering terjadi: fenomena karyawan yang suka menyinyir di media sosial, yang tanpa disadari justru merusak reputasi perusahaan tempat mereka sendiri bekerja. Di momen itu, ada satu quote dari seorang pimpinan yang sangat memberkati sekaligus menjadi teguran halus buat saya. Beliau berkata, "Selama kita masih bekerja dan menerima rezeki dari perusahaan di mana kita bernaung, bukannya seharusnya kita mendukung dan berdiri untuk pertumbuhan perusahaan tersebut?"
Memang, merasa lelah, jenuh, atau tidak setuju dengan kebijakan tempat kerja adalah hal yang sangat manusiawi. Namun sering kali tanpa sadar kita hidup dalam dualisme, di dunia nyata tampil sebagai profesional yang baik, tetapi di media sosial menumpahkan keluhan secara sinis. Padahal, ketika tempat kita bekerja diberkati dan bertumbuh, kita pun ikut merasakan dampaknya.
Secara historis, gantang adalah wadah alat ukur volume dan timah adalah penutup yang sangat berat. Dalam bahasa Ibrani, wadah ini berisi Rish’âh (kefasikan atau kejahatan) yang tersembunyi rapi di dalam. Tutup timah yang berat itu berfungsi menjaga agar "kefasikan" tersebut tetap nyaman berdiam di dalam tanpa kelihatan dari luar. Gambarannya sangat relatable dengan dunia social media hari ini, kita sering sengaja memasang "penutup berat" berupa hal-hal positif supaya busuknya kebiasaan kita tidak tercium orang lain. Jika saat ini kamu sedang berjuang melepas beban atau pergumulan serupa, kamu tidak harus melaluinya sendirian. Mari izinkan kami menopangmu dalam doa. Kamu bisa membagikan pokok doamu melalui formulir di halaman utama (scroll ke bagian paling bawah ya).
Key Takeaway
Tidak ada satu pun digital footprint atau rahasia paling kelam yang bisa kita sembunyikan dari-Nya. Tutup timah itu pada akhirnya akan terangkat, dan apa yang ada di dalam wadah akan diekspos secara nyata.
Kita rawan terjebak double life demi mendapatkan validation, atau pujian manusia. Tanpa sadar, kita menipu diri sendiri dengan membenarkan kesalahan cuma karena "nggak ada orang lain yang tahu".
Action Steps & Radical Shift
Do a motive check today. Sebelum kamu post sesuatu, bikin keputusan kerja, atau melakukan hal yang kelihatan baik tanyakan pada diri sendiri, "Aku melakukan ini buat benar-benar tulus, atau cuma demi impresi orang lain?"
Stop memelihara kecanduan atau dosa tersembunyi di bawah "tutup timah" pencitraanmu. Stop being passive about your hidden flaws, dan miliki keberanian untuk melakukan confrontation serta dealinglangsung atas kesalahanmu sekarang juga.
Break the seal, stop the act, and live an authentic life from the inside out.


