
Abel K Widodo
@abelkrw
“Those who are far away will come and help to build the temple of the LORD, and you will know that the LORD Almighty has sent me to you. This will happen if you diligently obey the LORD your GOD.”
The Art of Listening
Pernah nggak sih kamu merasa overwhelmed saat berusaha membangun sesuatu, entah itu karier, prospek bisnis, karya, atau sekadar merencanakan arah masa depan yang makin abu-abu di tengah AI disruption dan kondisi ekonomi saat ini? Apalagi kita hidup di era information overload. Buka media sosial sebentar, rasanya semua orang merasa paling tahu, mematok standar kesuksesan, dan membagikan unsolicited advice. Akibatnya, kita rentan terjebak hustle culture. Kita sibuk trial and error ke sana-sini sampai burnout, tapi rasanya tetap jalan di tempat karena kita bergerak tanpa arahan yang jelas dan hanya mengandalkan ego, "me, myself, and I".
Aku teringat saat baru akan masuk kuliah. Berdasarkan pandangan orang-orang di sekitar dan sosial media, aku berpikir bahwa standar keberhasilan seorang mahasiswa adalah meraih IPK cumlaude. Memasuki tahun pertama, aku menggebu-gebu belajar dan mencoba berbagai organisasi karena merasa harus seimbang antara akademis dan organisasi. Keputusan itu membuat hari-hari aku sangat padat hingga larut malam, entah berdiskusi di warung Burjo atau mengerjakan tugas kelompok. Sampai suatu hari ibu kos menyapa, "Mas Abel jarang banget di kosan, pulangnya malam terus." Aku hanya tertawa menanggapinya. Waktu itu, aku merasa sedang berjuang mencari jati diri sebagai anak rantau yang jauh dari orang tua. Namun lambat laun, standar keberhasilan yang aku kejar itu justru menyisakan ruang kosong dalam hati. Bukan karena belajar atau berorganisasi itu buruk, melainkan karena aku mulai bertanya pada diri sendiri: "Pada akhirnya, apa sih yang sebenarnya aku cari?" Aku menyadari bahwa selama ini aku mengejar standar keberhasilan yang saya ciptakan sendiri, bukan mencari kehendak dan apa yang TUHAN rancangkan dalam hidup aku.
Untuk keluar dari kejenuhan itu, ada satu kunci penting yang bisa kita pelajari dari bahasa Ibrani: Shâmô’a Tishme’ûn ("Jika kamu benar-benar mendengar dan menaati"). Kata "mendengar" di sini bukan sekadar mendengar lalu lewat (passive listening), melainkan mendengarkan dengan penuh kesadaran (active listening) untuk kemudian menyelaraskan tindakan kita dengan instruksi TUHAN. Pengarahan dan pertolongan-Nya sering kali hadir bukan saat kita sedang paling berisik dengan ambisi kita, melainkan saat kita mau tenang, diam, dan mendengarkan suara-Nya.
Jika saat ini kamu sedang berjuang melepas beban atau pergumulan serupa, kamu tidak harus melaluinya sendirian. Mari izinkan kami menopangmu dalam doa. Kamu bisa membagikan pokok doamu melalui formulir di halaman utama (scroll ke bagian paling bawah ya).
Key Takeaway
Saat kita mau merendahkan hati untuk taat, Dia sendirilah yang akan menggerakkan resource, koneksi, dan pertolongan dari arah yang tidak terduga.
Kita sering gagal mendengar bukan karena Dia diam, tapi karena kepala kita terlalu bising. Ego, overthinking, serta validasi dunia yang kita konsumsi setiap hari sering kali menenggelamkan instruksi-Nya.
Action Steps & Radical Shift
Lakukan digital detox singkat. Jauhkan gadget, duduk dalam keheningan, dan tanyakan pada diri sendiri: "Dari semua dinamika dan masalah yang lagi aku hadapi belakangan ini, apa instruksi sejati yang mau ditunjukkan buat langkah selanjutnya?"
Berhenti memenjarakan diri dalam narasi ego pribadi. Mulailah membangun kesepakatan (alignment) dengan petunjuk-Nya sebelum mengeksekusi rencana-rencana besar.
Silence the noise, drop your ego, and build your life according to the right blueprint.


